"Energy Giver" Perspective

Better Giving Than Recieving

Kontradiksi & Ironi kehidupan Sastrawan Nh. Dini Dan Anak nya Pierre L. Padang Coffin (Sutradara Despicable Me 1 & 2)


Nh. Dini & Pierre L. Padang Coffin

Nh. Dini & Pierre L. Padang Coffin

Menurut TEMPO.CO, http://www.tempo.co/read/news/2013/07/05/111493810/Sutradara-Film-Despicable-Me-Keturunan-Indonesia Pierre Coffin, sutradara film animasi ternama – Despicable Me 1 & 2, ternyata merupakan keturunan Indonesia. Coffin itu merupakan putra dari penulis sastra Indonesia, Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin.

Nurhayati Srihardini Siti Nukatin, atau yang lebih dikenal dengan nama pena “Nh. Dini“, adalah novelis dan feminis Indonesia. Pierre Coffin yang lahir pada 1 November 1967, merupakan anak dari pasangan Yves Coffin, seorang diplomat asal Perancis dan Nh. Dini. Semasa kecilnya, Pierre selalu mengikuti ayahnya yang berpindah tugas  dari satu negara ke negara lainnya seperti Jepang, Perancis, Amerika Serikat dan lain-lain. Namun Pada 1984, kedua orangtua Pierre memutuskan untuk bercerai.  Saat itu, sang ibu pun memutuskan kembali ke Indonesia, sementara Coffin ikut ayahnya menetap di Prancis.

Karir Pierre di dunia animasi Hollywood dimulai saat ia menjalani pelatihan di Gobelin, Paris dan bekerja untuk Amblimation di London. Ia lalu mendapat kesempatan untuk bekerja dalam film yang diproduseri Steven Spielberg, “We’re Back! A Dinosaur’s Story” di 1993.  Karirnya di dunia film animasi semakin terbuka lebar saat ia mengarahkan “Despicable Me” bersama Chris Renaoud. Setelah sukses dengan Despicable Me yang diliris pada 2010, film produksi Illumination Picture dengan Universal Studio yang disutradarai oleh Pierre Coffin ini juga telah merilis sekuel keduanya pada tanggal 3 Juli 2013. Dibandingkan dengan film sebelumnya, Despicable Me 2 menunjukkan beberapa adegan dan aksi yang lebih menonjol dari para pemainnya.

Namun keberhasilan dan ketenaran semakin membuat jarak dan sangat kontradiktif antara Pierre Coffin dengan Ibu kandung nya – Nh. Dini yang hidup sangat sederhana dan berjuang melawan sakit penyakit yang di derita nya lama, di Sleman, Yogyakarta. Tahun 1996-2000, ia sempat menjual-jual barang. Dulu, sewaktu masih di Prancis, ia sering dititipi tanaman, kucing, hamster, kalau pemiliknya pergi liburan. Ketika mereka pulang, ia mendapat jam tangan dan giwang emas sebagai upah menjaga hewan peliharaan mereka. Barang-barang inilah yang ia jual untuk hidup sampai tahun 2000. Nh Dini kemudian sakit keras, hepatitis-B, selama 14 hari. Biaya pengobatannya dibantu oleh Gubernur Jawa Tengah waktu itu – Mardiyanto. Karena ia sakit, ia juga menjalani USG, yang hasilnya menyatakan ada batu di empedunya. Biaya operasi sebesar Rp. 7.000.000,- serta biaya lain-lain memaksa ia harus membayar biaya total sebesar Rp. 11.000.000,-

Dewan Kesenian Jawa Tengah, mengorganisasi dompet kesehatan Nh Dini. Hatinya semakin tersentuh ketika mengetahui ada guru-guru SD yang ikut menyumbang, baik sebesar Rp. 10.000,- atau Rp. 25.000,-  Setelah ia sembuh, Nh Dini, mengirimi mereka surat satu per satu. Ia sadar bahwa banyak orang yang peduli kepadanya. Sejak 16 Desember 2003, ia kemudian menetap di Sleman, Yogyakarta. Ia yang semula menetap di Semarang, kini tinggal di kompleks Graha Wredha Mulya, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Kanjeng Ratu Hemas, istri Sultan Hamengku Buwono X yang mendengar kepindahannya, menyarankan Dini membawa serta perpustakaannya. Padahal empat ribu buku dari tujuh ribu buku perpustakaannya, sudah ia hibahkan ke Rotary Club Semarang. Kepeduliannya, mengundang anak-anak di lingkungan untuk menyukai bacaan beragam bertema tanah air, dunia luar, dan fiksi. Ia ingin anak-anak di lingkungannya membaca sebanyak-banyaknya buku-buku dongeng, cerita rakyat, tokoh nasional, geografi atau lingkungan Indonesia, cerita rekaan dan petualangan, cerita tentang tokoh internasional, serta pengetahuan umum. Semua buku ia seleksi dengan hati-hati. Jadi, Pondok Baca Nh Dini yang lahir di Pondok Sekayu, Semarang pada 1986 itu, sekarang diteruskan di aula Graha Wredha Mulya. Ia senantiasa berpesan agar anak-anak muda sekarang banyak membaca dan tidak hanya keluyuran. Ia juga sangat senang kalau ada pemuda yang mau jadi pengarang, tidak hanya jadi dokter atau pedagang. Lebih baik lagi jika menjadi pengarang namun mempunyai pekerjaan lain.

Inilah ironi kehidupan. Sang anak terkenal –  mendunia, namun Sang Ibu hidup terasing, terpinggirkan karena ketidakberdayaan untuk bertahan hidup dengan segala keterbatasan, kesederhanaan dan sakit penyakit yang di deritanya.

Berharap melalui tulisan ini dapat menggugah dan menggerakan kita semua untuk mempertemukan Pierre Coffin dengan Ibu nya, menggalang bantuan untuk membantu biaya pengobatan sang Peraih penghargaan SEA Write Award, penulis karya sastra Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), dan untuk terus melestarikan karya-karya sastra Nasional, kekayaan bangsa…

(Informasi, data dan sumber penulisan : dari berbagai sumber)

 “Hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 4 September, 2013 by in Anak, Inspirasi, Kisah Nyata, Nilai Hidup, Orang Tua, Pemahaman Diri, Psikologi.
%d bloggers like this: