"Energy Giver" Perspective

Better Giving Than Recieving

Indahnya Persahabatan

“Persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Istilah “persahabatan” menggambarkan suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan afeksi (perasaan dan emosi yang halus). Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiaan satu sama lain, seringkali hingga pada altruisme (lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain). Mereka juga akan terlibat dalam perilaku yang saling menolong, seperti tukar-menukar nasihat dan saling menolong dalam kesulitan. Sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku yang berbalasan dan reflektif. Namun bagi banyak orang, persahabatan seringkali tidak lebih daripada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan merugikan atau menyakiti mereka” (sumber : Wikipedia)

Ada banyak latar belakang, cerita, dan bentuk-bentuk persahabatan. Tetapi semuanya itu bisa terjadi semata karena adanya sebuah “hubungan”. Sebuah persahabatan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya sebuah “hubungan” yang di bangun. Dan ada banyak juga motivasi dan tujuan orang membangun suatu “hubungan”. Tetapi karena hidup ini begitu berharga dan adanya di dunia ini cuman satu kali kesempatan, adalah bijak jika suatu hubungan di bangun hanya untuk tujuan menolong, menguatkan dan menghibur orang lain.

Reza-HilarySikap dan motivasi hati untuk menolong, menguatkan dan menghibur itulah yang di tunjukkan sahabat saya, Reza Syaranamual (Chief Editor at Kacupeng (Moluccan Children’s Magazine) and Director at Amansplus ministry) dan istri tercintanya Hilary – “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu”. Diantara ratusan orang yang hadir di acara pemberkatan dan resepsi pernikahan saya, mereka muncul dengan pelukan dan kata-kata yang membangun dan memberkati untuk saya dan istri saya, Evi. Kami sangat kaget! Karena kami tahu, mereka berdua tinggal jauh dari Ibu Kota – Jakarta tempat acara kami, mereka tinggal di bagian timur Indonesia, di Ambon. Juga karena mereka berdua tidak pernah mengabari kami dan atau teman-teman kalau mereka akan hadir (Reza dan Hilary sempat masuk dalam daftar nama “teman-teman yang tidak akan hadir”🙂 )
Reza-Hilary

Dari begitu banyak suka cita dan kebahagiaan yang kami terima di hari itu, kehadiran Reza dan Hilary dengan ‘kejutan’ mereka itu jadi kado special untuk pernikahan saya dengan Evi. Sikap mereka membuat saya di ingatkan lagi tentang kemurnian motivasi, kerendahatian, ketulusan, konsistensi bersikap dalam membangun dan menjaga sebuah hubungan. Fokus sikap mereka terasa sekali semata MEMBERI, MEMBERI, dan MEMBERI tanpa ada kesan menggurui, lebih tahu di tengah-tengah kenyataan mereka telah menikah 20 tahun lebih dulu dari kami, walaupun kami sebaya (another story). Karena itulah saya semakin tahu dan mengerti, itu yang membuat mereka “kaya” dan menjadi pribadi-pribadi yang aman, objektif. – “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara.”

Waktu berlalu, beberapa hari yang lalu, saya kembali berkesempatan bertemu dengan dua sahabat ini. Kami bertemu di salah satu ruangan rumah sakit di RS. PGI Cikini, di suatu hari Jumat sore. Reza dan Hilary sedang mendampingi Mama tercinta – Ibu Meity Matakena/Syaranamual – Mama dari Reza yang di bawa dari Ambon untuk perawatan sakit ginjal nya beliau di Ibukota.
Dengan kondisi ginjal yang berfungi rendah (menurut Dokter/medis), sambil terbaring di tempat tidur, Ibu Meity bersama-sama dengan kami bersenda gurau, saling menguatkan dan menghibur, sesekali cerita masa lalu (“cerita dolo-dolo” – bahasa Ambon) – “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. Dan dengan memori ingatan Ibu Meity yang masih kuat (untuk seorang yang sudah berusia 76 tahun), terucapkan bahwa Ibu Meity – Mamanya Reza adalah teman main Almarhum Papi saya beberapa puluh tahun lalu (mungkin 50-60 puluhan tahun lalu. mengingat tahun kelahiran Almarhum Papi saya dengan Ibu Meity itu pada tahun 1938). Ibu Meity bersahabat dengan Almarhum Papi saya, dan di generasi kedua, Reza bersahabat dengan saya. Indahnya suatu hubungan, indahnya persahabatan!!

RS. PGI Cikini, JakartaKami akhiri pertemuan kami itu dengan berdiskusi tentang sebuah nasihat : “percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”…dan kami berdoa bersama-sama, sebagai sahabat, sebagai anak dan orang tua dalam satu sikap hati sebagai sebuah “keluarga” – karena kami sangat memerlukan Tuhan, kami memerlukan satu dengan lainnya, kami tidak sanggup menghadapi segala sesuatu sendirian, dengan bersama-sama kami jauh lebih kuat. Kami terbatas dengan banyak hal, kami tidak punya kendali apa-apa terhadap kesehatan Ibu Meity dengan fungsi ginjal nya yang rendah itu. Tetapi kami mau sama-sama sepakat berharap dan percaya bahwa Tuhan sanggup, Dia pegang kendali atas kesehatan dan hidup Ibu Meity, juga dia yang jadi dasar dan kendali atas hubungan kami, atas persahabatan kami…

2 comments on “Indahnya Persahabatan

  1. Hilary Syaranamual
    1 April, 2014

    Kisah yang menarik. Tidak sangka kisah ini akan diceritakan.

    Liked by 1 person

    • Energy Giver
      9 April, 2014

      Terima kasih Hilary & Reza sudah jadi inspirasi untuk tulisan saya ini.

      Happy sharing…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: